Showing posts with label psikologi remaja. Show all posts
Showing posts with label psikologi remaja. Show all posts

Wednesday, September 24, 2014

Mengatasi Sifat Pemarah Pada Remaja

Remaja Pemarah
http://www.pinterest.com/pin/233553930649445895
Rasa marah pada remaja kadang bisa menjadi hal yang sulit untuk diidentifikasi penyebabnya. Sebab seringkali rasa marah yang ditunjukkan oleh remaja merupakan sebuah kamuflase untuk menutupi masalah emosional yang lain seperti frustrasi, malu, sedih, sakit hati, takut, atau rendah diri dll. Jika remaja tidak mampu mengatasi hal-hal tersebut, mereka mungkin akan melampiaskan dengan marah kepada orang lain. Di usia yang masih belia, kebanyakan remaja kesulitan untuk mengenali apa yang mereka rasakan, apalagi untuk mengekspresikan dan mencari solusi.
Tantangan bagi para orangtua adalah bagaimana membantu remaja mereka mengatasi rasa marah itu dengan cara yang lebih konstruktif :

1. Atasi Kemarahan Anda Sendiri

Anda tidak dapat membantu anak remaja Anda jika Anda kehilangan kesabaran juga. Sesulit apapun masalahnya, Anda harus tetap tenang tidak peduli seberapa besar anak Anda memprovokasi. Jika Anda atau anggota keluarga lain terbiasa berteriak, saling memukul, atau melempar sesuatu, remaja Anda secara alami akan berasumsi bahwa ini adalah cara yang tepat untuk mengekspresikan kemarahannya juga.

 

2. Alihkan Pada Hal Yang Positif

Bantu remaja Anda menemukan cara yang sehat untuk mengurangi kemarahan. Temukan apa yang menjadi hobinya, kemudian arahkan untuk menekuninya. Selain itu bisa juga dengan olahraga, bahkan hanya memukul bantal dapat membantu meredakan ketegangan dan kemarahan mereka. Banyak remaja juga menggunakan seni atau kegiatan kreatif lain mengekspresikan kemarahan mereka. Bermain musik, menari, menulis, atau hanya sekedar mendengarkan musik juga dapat membantu.

 

3. Pahami Tandanya

Pahamilah tanda-tanda ketika dia mulai marah. Apakah anak remaja Anda merasa pusing sebelum meledak marah? Atau apakah kegiatan tertentu di sekolah selalu memicu kemarahan? Ketika remaja dapat mengidentifikasi tanda-tanda peringatan bahwa darah mereka mulai mendidih, memungkinkan mereka untuk mengambil langkah-langkah untuk meredakan kemarahan sebelum di luar kendali.

 

4. Temukan Penyebabnya

Temukan apa yang menjadi penyebab kemarahannya. Apakah anak remaja Anda sedih atau depresi? Contohnya, apakah anak remaja Anda merasa tidak terpenuhi kebutuhannya karena temannya memiliki hal-hal yang anak Anda tidak miliki? Apakah remaja Anda hanya perlu seseorang untuk mendengarkan dia tanpa menghakiminya?

 

5. Tetapkan Aturan dan Konsekuensi

Pada saat Anda dan anak Anda tenang, jelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan perasaan marah, tetapi ada cara yang tidak dapat diterima untuk mengungkapkan hal itu. Jika anak remaja Anda marah misalnya, dia harus menghadapi konsekuensi hilangnya hak atau bahkan mungkin berurusan dengan hukum. Remaja perlu aturan yang lebih ketat dari sebelumnya.

 

6. Berikan Ruang

Ketika remaja Anda marah, biarkan dia untuk pergi ke tempat di mana dia merasa aman untuk mendinginkan perasaannya. Jangan mengikutinya dan jangan dulu menyuruh dia meminta maaf pada Anda atau memintanya memberi penjelasan saat dia masih marah; ini hanya akan memperpanjang atau meningkatkan kemarahannya, atau bahkan mungkin memicu respon fisik.

Demikian tips mengatasi kemarahan pada anak remaja Anda. Semoga Anda tidak perlu menghadapinya.

Mengenal Ciri-Ciri Remaja Bermasalah

kenakalan remaja
http://www.pinterest.com/pin/177681147772078284
Ketika remaja mulai mandiri dan menemukan jati diri, banyak yang mengalami perubahan perilaku, sebagian diantaranya mungkin tampak aneh dan tak terduga bagi orang tua. Anak manis dan penurut yang dulu tidak mau terpisah dari orangtua, sekarang mulai menjaga jarak. Anak yang dulu selalu tampak riang dan suka berbicara kepada semua orang, kini mulai terlihat cuek dan terkadang cuma melirik ketika diajak bicara. Meskipun terkadang hal ini menyakitkan bagi sebagian orangtua, sayangnya hal ini adalah tindakan yang normal bagi seorang remaja, belum termasuk ciri-ciri remaja bermasalah.
Apabila ada diantara anak-anak Anda yang bermasalah, tentu akan sulit untuk menjaga keharmonisan keluarga. Karena itu perlu diketahui ciri-ciri remaja bermasalah sejak dini sebelum terlambat untuk mengatasinya. Untuk mengetahui anak-anak Anda bermasalah atau tidak, berikut ciri-ciri yang dimiliki oleh remaja bermasalah :

1. Mengubah Penampilan

Ketika menginjak usia puber, setiap remaja pasti akan mulai berdandan. Tampil modis menjadi penting bagi mereka. Bisa juga mereka akan mengenakan pakaian bertuliskan provokatif atau mencolok untuk mencari perhatian. Kecuali anak Anda ingin bertato atau bertindik, hindari mengkritik dan simpan protes Anda untuk menghindari masalah yang lebih besar. Fashion akan terus berubah, dan begitu juga dengan remaja Anda.
Anda boleh mulai khawatir jika itu disertai dengan masalah di sekolah atau perubahan negatif dalam perilaku, atau jika ada bukti fisik (bisa berupa tato atau tindik), atau penurunan berat badan secara ekstrim.

2. Suka Membantah dan Memberontak

Usia remaja berarti juga mereka akan mulai suka membantah dan menunjukkan perilaku memberontak. Hal ini sebagai bentuk remaja mencari kebebasan. Anda akan mulai sering pusing karena hal ini.
Jika eskalasi membantah menjadi sangat tinggi, atau mungkin disertai kekerasan di rumah, bolos sekolah, terlibat dalam perkelahian, bahkan mungkin bersangkutan dengan masalah hukum, semua perilaku itu adalah bendera merah yang melampaui norma pemberontakan remaja.

3. Suasana Hati Mudah Berubah

Karena meningkatnya hormon dan perubahan perkembangan sering berarti bahwa remaja Anda akan sering mengalami perubahan suasana hati, perilaku mudah marah, dan berusaha menjaga emosi.
Perubahan yang cepat dalam kepribadian, nilai jatuh, terus-menerus terlihat murung, sering merasa cemas, atau sulit tidur dapat menunjukkan bahwa mereka sedang depresi, mungkin karena bullying, atau masalah kesehatan emosional lain.

4. Mencoba Rokok atau Minuman Keras

Sebagian besar remaja mungkin akan mencoba rokok atau alkohol pada suatu saat. Bicarakan dengan anak-anak Anda secara terbuka tentang bahaya merokok, alkohol dan narkoba adalah salah satu cara untuk memastikan hal ini tidak menjadi kebiasaan.
Ketika merokok dan alkohol atau bahkan mungkin narkoba menjadi kebiasaan, terutama ketika itu disertai dengan masalah di sekolah atau di rumah, ini sudah menjadi bendera merah dan harus segera diatasi.

5. Lebih Mudah Dipengaruhi Teman

Teman menjadi sangat penting bagi remaja dan dapat memiliki pengaruh besar pada pilihan hidup mereka. Remaja lebih fokus pada teman-teman mereka, sehingga menjadi menarik diri dari orangtua. Ini mungkin membuat Anda merasa sakit hati, tapi bukan berarti remaja Anda tidak perlu cinta atau kasih sayang Anda.
Bendera merah apabila terjadi perubahan mendadak dalam pergaulan teman sebaya (terutama jika bergaul dengan teman-teman baru yang mempunyai perilaku negatif), menolak untuk mematuhi aturan batas-batas norma yang wajar, atau menghindari konsekuensi dari perilaku buruk mereka dengan berbohong. Selain itu apabila remaja Anda terlalu banyak menghabiskan waktu sendiri juga dapat menunjukkan adanya masalah.

Demikian adalah ciri-ciri remaja bermasalah. Terimakasih atas kunjungannya, semoga remaja Anda akan baik-baik saja. Kalaupun ada masalah dengan mereka, semoga Anda bisa segera mengatasinya.

Tuesday, September 23, 2014

Mengenal Nomophobia dan Cara Mengatasinya


Apa itu Nomophobia?


nomophobia
Pernah dengar istilah Nomophobia? Jangan keliru dengan Namibia. Kalau Namibia kan nama negara di Afrika. Nomophobia adalah istilah baru yang menggambarkan ketakutan yang sedang berkembang di dunia saat ini, ketakutan jauh dari mobile gadget, atau ketakutan berada di luar jangkauan telpon seluler. Nomophobia ini adalah trend yang sedang menggejala di kalangan pelajar dan mahasiswa. Banyak di antara mereka yang membawa handphone ketika mandi, bahkan mereka lebih suka menggunakan SMS atau tweet daripada berbicara langsung face to face.
Nomophobia berkembang pesat terutama di negara-negara maju. Kata Nomophobia sendiri berasal dari “no-mobile-phone-phobia” yang mulai diperkenalkan pada tahun 2010 oleh organisasi peneliti YouGov dari Inggris, yang meneliti kecemasan yang diderita oleh pengguna telpon seluler. Penelitian ini menemukan bahwa hampir 53% pengguna telpon seluler di Inggris cenderung merasakan kecemasan ketika “kehilangan telpon seluler, kehabisan baterai, atau di luar jangkauan sinyal”.
Penelitian ini juga menemukan sekitar 58% pria dan 47% wanita menderita phobia ini, dan sekitar 9% merasakan stres jika telpon seluler mereka mati. Penelitian ini mengambil sampel 2.163 orang. 55% responden menyatakan alasan kecemasan mereka adalah karena sulit menghubungi teman atau keluarga mereka. Penelitian ini juga menunjukkan tingkat kecemasan nomophobia sebanding dengan kecemasan calon pengantin dan kecemasan ketika ke dokter gigi.
Di Amerika malah lebih parah. Sekitar 65% tidur membawa smart phone, 34% mengaku memilih menjawab telpon ketika sedang berhubungan intim, 20% lebih memilih tidak bersepatu selama seminggu daripada tidak boleh menggunakan handphone. Hasil penelitian lainnya adalah sekitar 50% tidak pernah mematikan handphone dan 66% mengaku menderita karena harus selalu berdekatan dengan handphone.

 

Cara Untuk Mengatasi Nomophobia


Nomophobia kalau tidak segera diatasi akan menjadikan kita kecanduan. Untuk mengatasi segala macam bentuk kecanduan, termasuk kecanduan teknologi, adalah dengan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif, contohnya adalah dengan berolahraga. Jangan biarkan sesuatu mengontrol hidup Anda, kecuali tentu saja makanan, minuman dan tempat tinggal.
Teknologi baru seperti telepon seluler, tablet, komputer dan lain-lain yang mungkin akan muncul di masa depan, tentu akan memudahkan pekerjaan kita. Tetapi pada prinsipnya adalah jangan biarkan kita menjadi budak teknologi, selalu tempatkan teknologi hanya sebagai alat untuk membantu kita.
Lalu pendekatan apa yang harus kita lakukan kepada anak-anak kita yang mulai menunjukkan gejala-gejala nomophobia?
    • • Pastikan setidaknya satu kali dalam satu hari mereka mematikan telpon seluler selama beberapa saat, biarkan mereka bersosialisasi secara langsung.
    • • Seimbangkan waktu mereka antara menggunakan handphone/komputer dengan kontak langsung dengan orang lain.
    • • Setidaknya satu hari dalam sebulan, jauhkan anak-anak dari gadget apapun, misalnya dengan mengajak pergi berlibur tapi dengan syarat mereka tidak boleh membawa gadget mereka.
    • • Ketika waktunya tidur, jauhkan gadget dari jangkauan mereka.

    Apakah Anda punya saran lain? Silahkan tulis di kolom komentar di bawah.